Senin, 05 Oktober 2009
Pendhet vs Barongsay vs nasionalisasi = Terorisme???
Mencermati situai terkini tentang klaim-mengklaim budaya dan aset negara sangat menarik untuk dikupas dari perspektif sejarah dan dinamika kultural suatu bangsa.Sebuah 'Nation' atau bangsa jamaknya merupakan suatu kumpulan 'Sub-Nation' atau suku bangsa yang terikat dalam sebuah kerangka formal 'Negara' atau 'pemerintahan', sehingga semangat ber-bangsa =ber-negara= ber- budaya= nasionalisme. Masihkan definisi tersebut berlaku saat ini???Artefak dan bekas-bekas peradaban yang ada jaman dahulu menunjukkan bahwa muara dari berbagai kebudayaan (baca:peradaban) ada pada inti bangsa-bangsa besar, semisal: Mesir Kuno, Mesopotamia, Astek, Maya dll. Kemudian Eropa berkembang dengan inti peradaban Bangsa Arya dan Anglo-Saxon. Lalu peradaban Semit (Timur Tengah) muncul seiring munculnya agama-agama samawi. Di Timur ada Bangsa Cina dan Hindia yang merupakan sinkretis Arya dan Dravida.Namun sesungguhnya peradaban modern yang ternotifikasi melalui bentuk negara seperti saat ini adalah hasil 'ijtihadi' global terhadap tatanan dunia pasca PD I & PD II. Menariknya pembentukan sebuah Negara atau Nation seringkali tidak kongruen dengan akar budaya atau bangsanya. Negara lebih dari sekedar 'Sertifikat HM' yang diserahkan dan diakui oleh negara lain dan PBB atas 'lahan bekas jajahan' bangsa kolonial. Faktanya seringkali negara hanya sebuah 'boneka' dari negara lain yang lebih besar.Secara kultur budaya bisa jadi sebuah bangsa yang besar terbagi-bagi dalam beberapa negara yang sama-sama berdaulat. Contoh. Eropa. secara budaya mereka adalah serumpun yang besar. Tak heran jika kemudian muncul Uni Eropa, meskipun alasan utama bukan dasar budaya lebih pada Ekonomi. Sebaliknya sebuah negara terbentuk dari berbagai latar belakang budaya yang sangat beragam, contohnya ya siapa lagi Indonesia. Tak heran bila dari Sabang ke Merauke terdapat kebudayaan yang Subhanallah sangat kaya dan beraneka.Coba kita lihat Cina, secara ras mereka konon memiliki ratusan sub ras (suku bangsa) menempati wilayah yang sangat luas, namun secara budaya mereka relatif homogen. Ke mana-mana ketemunya ya 'Barongsay' atau 'kue moci'. Kenapa demikian? karena semua suku bangsa Cina pernah berada dalam satu kepemimpinan tunggal kaisar dalam beberapa dinasti. Coba lihat pula India, mereka relatif masif pula antara keyakinan, kerajaan sampai dengan budaya meskipun berada di hamparan benua yang luas.Lalu kita tengok, nusantara, hamparan ribuan pulau itu tak pernah berada dalam dominasi kekuatan atau kultural yang homogen, semua memiliki akar budaya setempat yang sangat kaya. memang Majapahit dan sebelumnya Sriwijaya pernah banyak menaklukkan bangsa-bangsa di nusantara, namun tak pernah sekali pun punya dominasi budaya terhadap daerah jajahannya. paling pol cuma minta upeti...he.he...Malaysia (d/h. Melaya) including Tumasik (Singhapura) hanya sebagian kecil wilayah yang takluk pula ke Majapahit, bahkan sampai Campa dan Cho cim di utara. Saat itu bangsa yang besar justru Kmer.Nahh, kalo saat ini Malaysia (negara) coba menampilkan seni budaya 'kita' yang beragam ya itu sebenarnya bukan sebuah 'klaim' namun 'pengakuan' bahwa mereka sejak dulu budaya mereka berkiblat ke nusantara (sekarang Indonesia). Secara akar budaya sebenarnya Malaysia saat ini dibentuk dari tiga bangsa besar : Cina, India dan Melayu. Namun Melayu lah yang dipilih sebagai ciri khas, karena dua yang lain (Cina & India) cenderung homogen dan telah melekat pada 'Nasionalisasi' negara formalnya yakni RRC dan India. Satu-satunya pilihan emang menasionalisasi pengaruh budaya 'Nusantara' yang kenyataannya ikut membentuk dinamika peradaban Malaysia. Pertanyaannya: sebatas apakah kepantasan simbolisasi budaya tersebut diekspresikan? Banyak kalangan memkritisi penggunaan 'Tari Pendhet' dan 'Wayang' yang telah melekat di kultur Bali dan Jawa digunakan pula sebagai simbol nasionalisasi Malaysia. Ngono yo ngono ning ojo ngono....Dari sudut yang berbeda, seharusnya kita bangga bahwa budaya kita 'dipinjam' untuk cari duit oleh negara lain. he.he.he... Namun kita tentunya setuju bahwa di tingkat formal pemerintah wajib bersikap tegas.Lalu apa hubungannya dengan Terorisme???Coba lihat JI (Jamaah Islamiyah) yang sub organisasi maupun oknumnya sering dikaitkan dengan berbagai aksi terorisme. Uniknya berbagai aksi dilakukan di banyak negara, tanpa mengikuti batas-batas wilayah formal. Mereka beraksi di Mindanao, Thailand Selatan (Pattani), Poso, Malaysia dan juga Ambon. Bandingkan dengan cara pandang kebudayaan kita, mereka lebih bersifat trans-nasional, tanpa batas negara dan berideologi worldwide. sementara kita memaksakan budaya musti (seharusnya) kongruen dengan nasionalitas atau batas2 negara.Hayo mana yang lebih universal, Teroris apa kita???Ha..ha.ha.....enak to/ manteb to? ;-)))))
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar